5 Alasan menginap di Red Light District- Amsterdam

Pada bulan Desember 2017, saya berkunjung ke Amsterdam dan menginap 4 malam di Red Light District. Ketika beberapa teman tau, mereka langsung melontarkan beragam komen dan pertanyaan, “Apa gak jijik, apa gak bahaya?” Rupanya tinggal di daerah Red Light masih dianggap tabu.

Pada liburan kali ini, orang tua saya ikutan. Karena itu saya berpatokan mencari tempat yang bersih, dan strategis – dekat dengan kendaraan umum dan tempat wisata. Nah, Hotel Luxer menawarkan semua komponen dengan harga yang terjangkau. Saya tau lokasi hotelnya dekat Red Light, tapi gak nyangka kalau ternyata SEDEKAT itu.

Ketika menuju hotel tidak ada sesuatu yang janggal. Karena datang kepagian, saya harus menitipkan koper di lobi selama kamar dibersihkan. Baru saja melangkah beberapa meter, sudah langsung terlihat deretan Sex Shop dan koffie House (cafe yang menjual ganja). Awalnya saya deg-degan juga, terlebih karena malam pertama bakalan sendirian sebelum keluarga menyusul di hari kedua.

Ternyata, setelah 4 malam menginap di daerah Red Light, saya sangat terkesan. Berikut 5 alasan kenapa kamu harus nginep di Red Light District.

ams26
Daerah Red Light

1. Daerah Sensasional yang mengasyikan

Daerah Red Light di Amsterdam dipenuhi toko-toko bertema seks, mulai dari teater dengan live show, hingga toko-kelontong yang menjual beraneka seks toys. Suatu pemandangan unik yang membuat kaget dan kadang lucu menggelitik. Yang pasti gak membosankan.

Saya perhatikan banyak sekali grup tour lalu lalang. Namun saya agak keberatan apabila ada rombongan yang bawa anak kecil. Rasanya gak tepat mengajak anak bawah umur ke daerah itu. Bagaimana menurut kalian?

Ibu shock melihat barang-barang yang dijual

Prostitusi sudah legal di Belanda sejak tahun 2000. Jejeran etalase berisi wanita penghibur sudah bukan pemandangan asing lagi. Namun tentunya ini aneh bagi turis seperti saya. Apalagi melihat dengan mata kepala sendiri transaksi terbuka antar si wanita etalase dan pelanggannya. Wow!

ams27
Suasana malam Red Light

2. Relatif Aman

Red Light Distirct cukup aman. Setidaknya itu yang saya rasakan selama 4 malam menginap disana. 

Pada malam pertama, saya jalan memutari Red light district sendirian hingga larut malam. Cari makan, minum bir, tidak sekalipun merasa risih. Tentunya saya selalu menggunakan nalar untuk menghindari tempat sepi dan gelap. Tetap harus waspada, ya.

Pernah satu malam saya dan adik pulang jam 2 pagi sehabis nonton konser One OK Rock, sebuah grup band asal Jepang. Perjalanan balik ke Red Light terasa aman dan tenang. Memang ada beberapa orang terlihat mabuk, tapi banyak restoran yang masih buka dan orang ramai lalu lalang di jalan. Suasana masih terasa hidup.

Ternyata menurut penjual kebab tempat kami membeli makanan, suasana tenang itu biasanya terjadi hanya pada saat off season. Di musim panas, boro-boro. polisi akan terlihat jauh lebih sibuk karena banyaknya yang mabuk sampai tiduran di jalanan, belum lagi yang berkelahi, ataupun tertangkap menjual narkotika.

ams9
Suasana Red Light district
Berfoto di Red Light District

3. Surga makanan

Siapa sangka, Red Light District terkenal sebagai surga makanan. Di daerah ini anda bisa mencicipi kuliner mulai dari pancake, beragam masakan Cina di China Town yang letaknya tepat di belakang Red Light, masakan mediterania, sampai masakan Indonesia. Dijamin banyak sekali pilihan.

Kalau anda penggemar bir, di daerah Red light banyak pub menarik yang menawarkan bir hasil olahan sendiri. Saya merekomendasikan sebuah pub bernama De Bakeerde Suster. Pilih lah paket tester dimana anda bisa mencoba beberapa jenis bir dalam ukuran kecil.

ams12
Pancake lezat di Pancake Amsterdam 
Mencoba tester bir di De Bakeerde Suster
ams25
Suasana China Town yang terletak di area Red Light district

4. Kaya dengan arsitektur dan museum indah

Beberapa bangunan paling tua dan indah di Amsterdam terletak di Red Light district. Bahkan ada yang berdiri sejak abad ke 13. Ironisnya, ground zero Red Light adalah gereja tertua di Amsterdam, yaitu Oude Kerk.

Lokasi Oude Kerk berdekatan dengan sebuah patung perunggu yang dinamakan Belle. Patung ini adalah monumen yang dipersembahkan untuk pekerja sex seluruh dunia dengan tulisan ‘Respect sex workers all over the world‘. Tidak jauh dari gereja, ada pusat informasi untuk memberi arahan dan pendidikan kepada pekerja seks, dan juga wisatawan yang membutuhkan jasa tour. 

ams14
Patung perunggu yang didedikasikan untuk pekerja seks seluruh dunia. Terletak di depan gereja tertua di Amsterdam
ams1
Unik sekali! Aktifitas prostitusi berada tepat disebelah gereja. Sisi sebelah kiri adalah Gereja Oude Kerk, dan sisi kanan adalah bilik-bilik etalase wanita penghibur

Suasana Red Light berbeda pada siang hari. Saat ini lah anda bisa melihat kanal-kanal kecil yang menawan dilatarbelakangi bangunan-bangunan tua warna-warni yang dibangun pada tahun 1500an.

Bangunan di Red Light banyak yang dibangun pada tahun 1500an
ams3

Museum Our Lord in the Attic adalah salah satu museum yang jarang terdengar, namun ternyata sangat indah dan penuh kejutan. Dari luar, museum ini terlihat seperti rumah mewah biasa, namun siapa sangka, di loteng bangunan ini tersembunyi sebuah kapel katolik. Kapel yang dibangun tahun 1663 ini dipergunanan saat agama Katolik diprosekusi saat pemerintah protestan berkuasa.

ams21
Museum Our Lord in the Attic- Sebuah gereja tersembunyi diatas loteng

5. Lokasi Strategis 

Lokasi Red light distric sangat strategis. Banyak sekali tempat yang bisa dikunjungi dalam waktu singkat sehingga menghemat waktu dan biaya. Berikut jarak dari hotel Luxer di red light ke lokasi-lokasi tempat wisata:

  • Stasiun Amsterdam Centrall (350 meter)
  • Toko Primark (450 meter)
  • Madame Tussaud’s (650 meter)
  • Royal palace Amsterdam (650 meter)
  • Dam Square (650 meter)
  • Anne Frank House (1.5 km)
  • Museum Rembrandt (950 meter)
  • Chinatown ( 300 meter)
  • Pertokoan Nieuwendijk ( 350 meter)
  • perpustakaan umum (700 meter)
ams30
ams33

ams34

Amsterdam adalah kota besar. Kadang wisatawan memilih untuk menginap di tempat yang agak jauh dari kota untuk menghemat biaya, namun lupa bahwa waktu juga sangat berharga. Untuk itu saya merekomendasikan mengeluarkan biaya lebih untuk menginap di tempat strategis, salah satu pilihan adalah Red Light district. Banyak kok hotel-hotel yang bersih dan aman, asal rajin riset.

Jadi apakah anda berani nginep di red light Amsterdam?

9 thoughts on “5 Alasan menginap di Red Light District- Amsterdam

  1. Kantor saya kebetulan dekat dengan Oude Kerk, RDL ini sebenernya cuma tourist spot/tourist trap doang, harga sex toys yang mereka jual jauh lebih mahal dari online shop macam bol.com(amazon-nya NL), mau coba sewa jasa prostitusinya? Silahkan kalau mau buang-buang puluhan euro untuk sekedar 5-7 menit doang.

    Saya malah kasian liat mereka, dipajang di “aquarium” seperti ikan yang mau dijual 😦

    1. Wahhh kebetulan aku gak beli sex toys dan make jasa prostitusinya, jadi gak tau harga pasar. Hahaha tapi yang pasti restoran dan pub harganya reasonable kok, gak jauh beda sama harga tempat lain.

      Iyaaaa aku juga kasian liat mbak2 yang dipajang di aquarium. Tapi mereka memilih kehidupan itu, mungkin dianggap pilihan terbaik saat ini. 😢

Leave a Reply to FibeCanada Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s