Eropa / Inggris Raya

Antara Rawa, Egham, dan Da Vinci Code

Ketika mendengar kata Egham, masih banyak orang tidak tau bahwa itu nama sebuah kota di Inggris. Saya teringat ketika salah satu sepupu  memberikan peta tube  ( kereta bawah tanah di London), sambil bertanya, “Dimana sih mbak kotanya? Aku cari sampai Zone terakhir juga gak dapet-dapet”. Namun siapa sangka kota ini bisa memberikan kenangan  tersendiri karena disanalah pengalaman pertama saya tercebur ke rawa.

Egham adalah sebuah kota kecil yang berada sekitar 32 km Selatan kota London. Kota ini bagian dari Greater London, dan pada tahun 2008 berpenduduk 29,663 orang. Egham adalah kota yang menjadi research centre perusahaan-perusahaan multinational seperti Procter and Gamble, dan Research in Motion, pembuat Blackberry. Namun,kota kecil ini lebih dikenal sebagai tuan rumah Ferari, Maserati, dan Porsche di Inggris, karena disanalah pusat dealership perusahaan-perusahaan mobil itu berada.

Pusat kota Egham

Pusat kota Egham

Kunjungan pertama ke Egham adalah tahun 2004 ketika menghadiri wawancara penerimaan murid di Royal Holloway, University of London. Kebetulan pada saat itu saya sedang berlibur ke Cambridge, dimana adik saya sedang menempuh pendidikan A level atau setingkat kelas 3 SMA.

Perjalanan dari Cambridge menuju Egham cukup berliku. Diawali dari stasiun kereta Cambridge menuju Stasiun Kings Cross di London yang ditempuh dalam waktu 45 menit.  Kemudian dari Kings Cross diteruskan dengan kereta bawah tanah menuju stasiun Waterloo. Sesampainya di Waterloo, dilanjutkan dengan membeli tiket kereta menuju kota Egham.  Kereta ini berangkat setiap setengah jam sekali. Selama menunggu saya pun membeli Chai Latte dan Pretzel di AMT Coffee, yang akhirnya menjadi semacam ritual tiap kali naik kereta. Biaya transportasi tahun ini tentu sudah berbeda dibanding tahun 2004. Untuk informasi lebih lanjut bisa didapatkan di National rail.

Perjalanan dari London ke Egham ditempuh dalam waktu 40 menit. Karena waktu itu merupakan pertama kalinya ke kota itu, saya jadi lebih awas memperhatikan stasiun-stasiun kereta karena khawatir kelewatan. Ternyata ketakutan saya tak beralasan karena sesampainya di Stasiun Egham, sebuah plang yang cukup besar terpampang di stasiun, sehingga dengan mantap saya pun yakin berada di tempat yang tepat.

Ada empat cara untuk menuju universitas dari stasiun kereta. Cara-cara tersebut adalah berjalan kaki dari stasiun sekitar 30 menit, menunggu bis umum yang datang sejam sekali, naik bis universitas yang sayangnya hanya bisa dipakai oleh pelajar dan staff, atau naik  taksi. Sebenernya naik taksi adalah alternatif terakhir karena harganya tentu lebih mahal, namun dilain pihak, lebih cepat sampai tujuan. Akhirnya taksipun menjadi pilihan.

Beberapa menit setelah taksi melewati jalan kecil yang  diapit oleh rawa-rawa, supir taksi berteriak dan membanting setir kearah kiri secara tiba-tiba . Saya pun berteriak panik dan kaget sekali. Saya semakin ketakutan ketika melihat bahwa taksi sudah berjalan lurus menuju sebuah pohon besar. Sang supir kembali membanting setir, namun kali ini menuju rawa dan byurrrr! Terceburlah kami di rawa dan genangan air masuk  kedalam taksi secara perlahan. Setelah mencoba beberapa kali membuka pintu mobil, akhirnya saya dan sang supir berhasil keluar. Untungnya kedalaman air hanya sebetis. Ketika berjalan menuju daratan, terlihat sekitar 3 mobil sudah berhenti di bahu jalan dan beberapa orang berusaha turun ke air untuk membantu. Saya sangat kagum dengan polisi dan ambulans dikota itu, karena hanya sekitar 5 menit berselang setelah berhasil sampai di daratan, mereka sudah tiba.  

Saya dan supir taksi diwawancarai polisi.  Menurut supir taksi yang ternyata bernama Tom, ketika dia sedang mengendarai taksi tiba-tiba ada sebuah mobil  dari arah berlawanan berjalan Zig-Zag, dan hampir menabrak taksi kami. Itulah sebabnya dia harus membanting setir dan tercebur di rawa.

Saya dan Tom kemudian diperiksa oleh petugas ambulans. Malu juga melihat mereka begitu khawatir dengan keadaan kami, padahal sudah jelas airnya hanya sebetis dan tidak ada luka sedikitpun. Tapi mereka baik dan ramah. Mungkin senang karena hari itu ada kegiatan menarik di Egham.

Saya dan Tom akhirnya dibawa ke kantor polisi. Kami diperbolehkan mengeringkan baju di dalam dryer dan selama menunggu dipinjami baju kaos.  Setelah mengisi berita acara,  saya pun diatar ke kampus dengan mobil polisi. Sesampainya di kampus Royal Holloway, saya terperangah kagum. Gedungnya seperti puri dan besar sekali. Seperti di film Harry Potter. Saya semakin berharap lolos wawancara sehingga bisa terbangun tiap pagi dengan pemandangan seperti ini.

Sejarah Universitas Royal Holloway sangat menarik. Kisahnya bermula ketika seorang milioner bernama Thomas Holloway berencana untuk mengalokasikan 250.000 Pound Sterling untuk kegiatan sosial. Atas ide dan dukungan istrinya yang bernama Jane, Thomas Holloway  membangun Royal Holloway, yang diharapkan bisa menunjang  pendidikan dan perekonomian daerah sekitar.  Sekolah ini awalnya adalah institusi bagi wanita dan diresmikan oleh Ratu Victoria pada tahun 1886, namun pada tahun 1900 menjadi bagian dari University of London dan pada tahun 1945 mulai menerima pelajar pria. Kampus Royal Holloway didominasi oleh Founder’s Building yaitu sebuah bangunan berwarna merah bata yang diinspirasi dari  Chateau de Chambord di Lembah Loire, Prancis. Sekolah ini semakin populer semenjak nama Royal Holloway muncul pada buku bestseller Da Vinci Code dimana karakter wanitanya, Sophie Neveu, adalah almameter Royal Holloway dengan jurusan Cryptography.

Royal Holloway memang memiliki perkumpulan akademia jurusan Sekuritas dan Cryptography terbesar di dunia yang diakui secara internasional. Jurusan  Informasi teknologi, Komputer dan Matematika yang diketuai oleh Professor Fred Piper berhasil memenangkan penghargaan Queen’s Anniversary Prize  di tahun 1998 yaitu penghargaan kepada institusi pendidikan atas kontribursinya  kepada Inggris melalui jalur intelektual, ekonomi, seni, sosial dan budaya. Royal Holloway memenangkan penghargaan ini atas kontribusi mereka melalui pengembangan sistem Cryptography dan teknologi yang berhasil meningkatkan kinerja E-Commerce dan  organisasi-organisasi yang menggunakan smart cards.

Karena keasikan memandang gedung kampus itu, baru disadari bahwa mobil polisi yang saya tumpangi menjadi tontonan. Saya pun turun dan berusaha untuk menghindar pandangan orang dan mencari ruangan tempat wawancara berlangsung. Dalam perjalanan ke kampus, sang polisi sempat menginformasikan bahwa pengemudi mobil zig zag itu berhasil ditangkap dan ternyata dia sedang mabuk. Aneh sekali karena ketika kejadian terjadi, waktu masih menunjukan pukul 11 siang.

Akhirnya saya bertemu dengan profesor yang akan mewawancarai saya, dia menanyakan perihal keterlambatan, sehingga kejadian siang itu pun saya ceritakan. Entah karena memang kualitas atau sekedar kasihan melihat wajah saya yang memelas, akhirnya Profesor itu berkata ‘See you in September’, yang artinya saya diterima karena awal pelajaran di Inggris biasanya dimulai bulan September .  Wah luar biasa senangnya. Tidak apalah tercebur  di rawa karena akhirnya tiap pagi bisa melihat pemandangan kampus yang luar biasa.

Saya dan ibu di Royal Holloway

Advertisements

5 thoughts on “Antara Rawa, Egham, dan Da Vinci Code

  1. hahaha congratulation mba.
    bisa dibilang sengsara yang membawa nikmat, jadi tiap pagi bisa liat bangunan-bangunan yang arsitekturnya sugoiii~ 😀

    Oiya itu tarif keretanya berapaan mba dari stasiun kereta Cambridge menuju Stasiun Kings Cross?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s