Culture Shock: Budaya Barat Vs Budaya Timur

Akhir tahun 2017, saya bersama beberapa kolega kantor menghadiri konferensi CBIE (Canadian Bureau for International Education) di kota Ottawa, Canada. Konferensi ini diadakan sebagai ajang diskusi untuk berbagi informasi antar staff departemen international education dari seluruh institusi pendidikan di Canada.

Salah satu topik konferensi yang diangkat adalah perbedaan budaya timur dan barat melaui sudut pandang Yang Liu, seorang seniman Jerman kelahiran Cina. Melalui rentetan ilustrasi, Yang Liu menceritakan pengalamannya hidup di dua budaya yang berbeda.

Topik ini sangat berkesan karena saya mengalami hal yang persis dirasakan Yang Liu ketika pada umur 15 tahun dikirim sendirian ke kota Toowoomba, Australia untuk melanjutkan SMA di sebuah asrama putri. Sebagai satu-satunya international student, saya mengalami culture shock luar biasa. Untung dengan berjalannya waktu, bisa beradaptasi sehingga berhasil menjalani tiga tahun SMA, yang dilanjutkan dengan menetap di Amerika, Inggris, dan kini memasuki tahun kesebelas di Canada.

Berikut beberapa hasil karya Yang Liu yang menurut saya tepat menggambarkan perbedaan antara budaya timur dan barat. Untuk melihat ilustrasinya secara lengkap, anda bisa melihatnya disini. 

1. Barat vs Timur dalam menghadapi masalah

untitled
Budaya barat dan timur mempunyai perbedaan dalam menghadapi masalah. Budaya barat lebih to the point. Sedangkan budaya timur lebih cenderung menghindar konflik.

Saya pernah bekerja sebagai service coordinator pelajar internasional di Canada. Di bidang ini saya memperoleh banyak pengalaman dalam menghadapi berbagai budaya. Saya perhatikan, pelajar dari budaya barat seperti Inggris, Australia, Brazil, akan segera mengunjungi saya apabila mempunyai masalah dan segera mencari solusinya. Namun pelajar dari budaya timur seperti Korea and Jepang cenderung menunggu, berharap masalah selesai tanpa harus menciptakan konflik.

2. Barat vs Timur dalam Mengurus anak

rotor77_1_54

Waktu saya masih tinggal di Toronto, Canada, saya mempunyai teman dekat orang Korea dengan 2 anak yang masih kecil-kecil. Dia bercerita betapa susahnya mencari penitipan anak di daerah Scarborough, salah satu suburb di Toronto. Ternyata setelah ditelusuri, akhirnya dia tau bahwa penitipan anak kurang begitu laku di daerah itu. Alesannya? Karena penduduk Scarborough yang mayoritas imigran Cina dan India justru memboyong orang tua mereka ke Canada untuk mengurus cucu. Hal itu karena dirasa lebih hemat, lebih bisa dipercaya, dan kakek/nenek ini senang dekat dengan cucunya. Jadi win-win solution. 

Dilain pihak, orang Canada justru lebih individualis dan kakek-nenek bersedia mengurus cucu hanya pada hari tertentu saja.

3. Barat vs Timur dalam bersosialisasi

lebensstil

Budaya Barat adalah budaya individual, dimana kepentingan pribadi berada diatas kepentingan grup. mereka lebih memilih melakukan kegiatan sendiri dibanding berkelompok, dan cenderung berinteraksi dengan inner circle dalam lingkup yang terbatas. Dilain pihak, budaya timur adalah budaya koletif, semuanya dilakukan bersama secara gotong royong. 

Salah satu tantangan terbesar bagi imigran yang baru pindah ke Canada, khususnya dari budaya timur adalah rasa kesepian dan terisolasi. Gimana enggak, di negaranya mau bertamu ke rumah handai taulan gampang, tinggal datang. Sedangkan Di Canada semua serba appointment, dan harus diatur jauh hari, jadinya terasa kaku.

4. Barat vs timur dalam menyikapi Ego

Ich_E

Budaya timur mengajarkan anak untuk patuh. Dirumah patuh kepada orang tua, dan di sekolah patuh terhadap guru. Budaya timur lebih mengharagai ‘kami’, ‘kita’ dibanding ‘saya’. Membanggakan prestasi diri dianggap tabu, melakukan sesuatu diluar norma dianggap aneh. Bahkan ada peribahasa Jepang, “The nail that sticks out get hammered down.” Sesuatu yang berbeda harus diperbaiki. Keseragaman adalah penting dan perlu. 

Di lain pihak, budaya barat memupuk rasa percaya diri dari sejak anak masih kecil, mereka diberi kesemapatan untuk beragumen dan berpendapat tanpa rasa takut dan malu.

Saya ingat ketika saya SMA di Australia, teman-teman sekelas berlomba mengangkat tangan ketika ditanya pendapat oleh guru. Wow! Rasanya waktu saya di Indonesia, semua murid berusaha keras untuk tidak bertatapan mata dengan guru, takut dipanggil. 😛

Melalui rentetan ilustrasi, Yang Liu berbagi pengalamannya menghadapi dua budaya. Tentunya pendapatnya subjektif. Janganlah kita terlalu serius dalam menyikapinya, karena pengalaman tiap orang berbeda.

Apakah anda setuju dengan hasil karya Yang Liu, atau pernah mengalami culture shock? 

19 thoughts on “Culture Shock: Budaya Barat Vs Budaya Timur

  1. Setuju banget…ya ada sisi baik dan buruknya masing-masing….

    Jadi ingat jaman sekolah di Indo pegang mike buat presentasi didepan guru-guru rasanya seperti siksaan…begitu sekolah di luar tiap hari harus presentasi, sekali megang mike malah rasanya nggak mau ngelepasin…wkwk….

    1. Yaaaaa betul. Di Indo kalo ditanya guru suka ngeri. Abisan kalo salah malah dipermalukan di depan kelas dan jadi berasa bodoh. Hahahhahaa

      Wkt di australia malah kalo aktif diskusi dipuji, padahal jawabannya kadang ngawur. Hahahhaa

  2. Aku tertarik pada “mengapa” kebudayaan timur lebih komunal dan kebudayaan lebih individual, padahal mereka sesungguhnya pernah melewati zaman-zaman komunal, yaitu zaman pemburu pengumpul (masa pra sejarah) dan zaman pertanian (enam ribu tahun terakhir), sebelum mencapai zaman modern-industrial (300 tahun terakhir). Padahal, akar mereka sama.

    1. What an interesting question!
      Kalo menurut hipotesa aku, hal itu disebabkan karena dua hal:

      1. Nenek moyang budaya barat menanam gandum, dan nenek moyang budaya timur menanam beras. Seperti kita tau, menanam beras membutuhkan tenaga extra. Jadi mau gak mau komunikasi dan koordinasi dari tiap individual dibutuhkan, sehingga terciptalah budaya gotong royong.

      2. Hipotesa kedua adalah karena budaya barat duluan mengadopsi teknologi dan industri, jadinya tidak lagi tergantung pada individu lain. The more money you have, the less reliant you are to others.

      Krn teknologi dan industri lah skrg korea dan jepang mulai perlahan berubah menjadi negara individualis.

      Ini pendapatku doang, loh. Hahahha Menurut km gmn?

  3. Waktu pertama kali tinggal di Kanada untuk sekolah Master’s, semester pertama bener2 bahagia, honeymoon phase banget, tapi pas masuk semester depannya (when winter season started as well) baru kerasa culture shock dan mulai winter blues dan macem2. It’s all a good memory now though!
    Did you always live in Toronto or do you currently live somewhere else, Mbak? I used to live in Edmonton from 2016 to 2018 🙂 salam kenal from a new follower!

    1. Halo, Salam kenal juga. Aku dulu di Toronto 5 taun, trus skrg aku dah taun ke 6 di Medicine Hat, Alberta. Pernah denger gak kotanya? Hahaha

      waaaaah kalo kita kenal dari dulu, bisa lah kita ngopi2 cantik di Edmonton, atau road trip bareng ke Banff! Kamu bakalan ke Canada lagi gak?

      1. Waah asik banget udah 11 tahun.. Udah citizen atau pakai PR aja, Mbak?

        Iyaa aku bakal jalan2 ke sana lagi kok seenggaknyaa. Barang2ku banyak yang masih dititipin di sana soalnya hahaha. Dari dulu pengen banget road trip dari Vancouver ke Edmonton dan ngunjungin semua national parks di rutenya terutama yang on the BC side, udah pernah pakai VIA Rail dan Greyhound (masih ada gaksih nih Greyhound katanya udah gak ada ya?) tapi gak bisa berhenti2 di tengah jalan kann. I will let you know when I visit Canada again then!

        1. Iyaaaa aku mau bgt road trip ke vancouver. Tp suasana skrg kayaknya susah. Mungkin baru bisa taun depan ya.

          Greyhound udah gak ada untuk beberapa jalur. di Alberta kemana mana emang lbh gampang naik mobil ya.

  4. Sekarang aku jadinya suka reverse culture shock klo pas liburan ke Indoenesia. Manusia2 yang males antre terutama di bandara. Gemes rasanya 😛

    1. Sama. Aku jg pasti ngalamin reverse culture shock selama beberapa hari, Bahkan beberapa minggu Kl balik Indo. Tp semua terobati kalo dah bisa makan pempek, siomay, Es teler, lohhh kok malah ngomongin makanan. Hahahaaa

  5. haiii salam kenal yaa clara.
    mau cerita.. anak2ku sekarang sekolah di sekolah internasional.
    dan keliatan bgt bedanya dalam hal berpendapat dari jaman kita sekolah. dari yang mereka menganggap diri setara dan boleh berpendapat scr bebas. at least diskusi, apalagi kalau ada konflik. harus ada penyelesaian bgt.
    jadi ga bisa lagi sekarang nyuruh atau bilang No tanpa penjelasan dan ga ada lagi omongan : pokoknya harus nurut mama. wkwkkw…
    mereka jd jauh lebih kritis dlm berpikir

    1. Halooo! Salam kenal juga:-)

      Betul sekali. Jaman sekarang anak2 lbh kritis. Jadinya kita harus bikin alasan yang kuat Kl mau ngelarang. Ribet ya! Hahahaa

      Tapi anak sekarang lbh jago bahasa inggris dan pede yaaa. 👍

  6. Budaya timur lebih ke arah family oriented, jika si anak terjadi masalah wajib dirundingkan dengan keluarga, kekuranganya memang akhirnya kita tidak punya privacy dan kadang2 pihak keluarga selalu menyalahkan si anak tersebut, tapi ada kelebihannya; jika terjadi masalah di luar keluarganya akan pasang badan untuknya.

    Sedangkan di barat itu ya lebih individual, selagi dia sudah masuk legal age, dan keluar dari rumah orangtuanya, ya sudahlah semua masalah dia yang tanggung tapi dia dapat kebebasan yang lebih.

    Itulah kenapa sebagai psikolog, jarang dapat client orang Asia, karena masalah mereka ya selalu dirundingkan dengan keluarganya terlebih dahulu.Pengen banget tulis mengenai perbedaan orang barat dan timur saat memecahkan masalah, tapi belum sempat 😀

    1. Wah kebetulan banget. Waktu itu aku pernah ikutan seminar dgn beberapa counsellor dan psikolog Canada tentang international student and mental health. Ternyata mayoritas student Asia banyak yg menolak bantuan psikolog. Alasannya? Karena rasa malu dan adanya stigma seputar mental health. Mereka lebih baik struggling dibanding di cap ‘orang gila’, dan membuat malu keluarga.

      Justru ‘bantuan’ keluarga itu bukannya menyelesaikan masalah, tapi justru membuat mereka jadi lebih tertutup. Apalagi pressure keluarga Asia besar banget kan. Dipaksa jadi dokter, insinyur, padahal maunya jadi seniman. Hahaha

  7. Apa cuma ak yang ngerasa lebih cocok sama budaya barat pdhl dibesarkan dlm budaya timur?. Lebih nyaman aja hidup lebih individual, ada lebih banyak personal space dan privacy juga gak dilanggar. Selain itu komunikasinya lebih mudah karena verbal dan lebih cepat dlm hal problem solving. Kl dalam hal family relationship, ak suka mereka lebih gampang dan sering mengekspresikan perasaan dibanding org timur.

    1. Agaknya susah kalau budaya barat diterapkan di Indo. Adanya ntar dipikir gak sopan atau sombong hahaha. Dilain pihak budaya timur jg susah diaplikasikan di barat, bayangin baru kenal udah nanya udah nikah apa belum, anak berapa, agama apa, wow that’s a big no no. 😂

      Semua ada kelebihan dan kekurangan masing2 kok. Tp aku kadang rindu dengan kebersamaan dan rasa kekeluargaan budaya timur. Tapi kalo nyampe Indo suka kesel kalo udah mulai ada yang ngurusin privacy org. Ahhh serba salah. Emang Di Mana Bumi Dipijak, Di Situ Langit Dijunjung ya.

Leave a Reply to ExParisienne Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s