Amerika Selatan / Brazil

Gereja-gereja Bersejarah di Sao Paulo

Sejak saya kecil, tiap kali kami sekeluarga berlibur dan singgah disuatu kota, ibu saya pasti tidak pernah melewatkan untuk berkunjung ke gereja. Sebagai seorang Katolik, ibu lebih memilih ke gereja Katolik, karena dia merasa lebih mantap untuk berdoa atau istilah Jawanya ‘marem’. Selain itu, ada kepercayaan bahwa bilamana permohonan dipanjatkan di gereja yang tidak pernah dikunjungi,permohonan pasti terkabul. Si pemohon kemudian harus kembali ke gereja tersebut dan mengucapkan syukur. Oleh sebab itu tidak mengherankan kalau selama berada di Sao Paulo, saya mengunjungi 3 gereja sekaligus, yaitu Katedral Metropolitan Orthodox, gereja Sao Bento dan Katedral Sao Paulo.

Katedral Metropolitan Orthodox

Katedral Metropolitan Orthodox adalah gereja Katolik Orthodox yang berlokasi di Rua Vergueiro,1515, pusat kota Sao Paulo. Gereja ini dibangun sekitar tahun 1940an  dan diresmikan pada tahun 1954 untuk memperingati 400 tahun berdirinya kota Sao Paulo. Katedral ini dipengaruhi oleh arsitektur Bizantium dan terinspirasi oleh Hagia Sophia di Istanbul, Turki.

Arsitektur terunik dari katedral ini adalah kubah berwarna emas yang menjadi landmark Sao Paulo.  Interior katedral didekorasi dengan lukisan-lukisan religi dan lukisan kaca yang sangat indah. Tiang-tiang dengan gaya aristekur ‘Corinthian order berdiri megah di sudut-sudut gereja.

Ketika berkunjung kesana,  katedral itu ditutup untuk umum. Untungnya, kami menyewa tour guide yang kebetulan kenal dekat dengan penjaganya sehingga diperbolehkan masuk. Saat itu gereja sedang sepi pengunjung sehingga memberikan kami peluang untuk menikmati gereja ini secara keseluruhan tanpa terganggu.

Katedral dengan Kubah emasnya

Jika berkunjung ke Sao Paulo dan waktu anda terbatas, saya anjurkan untuk mengikuti tour dalam kota yang biasanya berlangsung selama 3 sampai 4 jam. Dengan tour ini anda bisa melihat titik-titik terpenting  Sao Paulo dan tempat-tempat menarik secara singkat dan efisien.  Mayoritas penduduk Sao Paulo tidak bisa berbahasa Inggris dan transportasinya pun cukup rumit. Jadi jika tidak bisa berbahasa Portugis ataupun tidak bersama penduduk lokal, anda akan kesulitan mencari lokasi-lokasi penting dalam kota.

Katedral Orthodox

Lukisan-lukisan religi dalam gereja

Katedral Sao Paulo

Gereja kedua yang saya kunjungi adalah katedral Sao Paulo. Sejarah gereja ini sangat panjang dan dimulai pada tahun 1589 ketika sebuah gereja dibangun di Sao Paulo yang waktu itu masih merupakan sebuah kota kecil. Pembangunan gereja itu selesai pada tahun 1616.

Di tahun 1745, gereja ini dirombak ulang dan dibangun kembali dengan gaya Baroque, dan selesai pada tahun 1764. Gereja sederhana ini menjadi katedral Sao Paulo hingga tahun 1911, ketika akhirnya dirombak lagi oleh Duarte Leopoldo e Silva, Uskup Sao Paulo saat itu. Konstruksi dimulai tahun 1913 dengan menggunakan tenaga seorang arsitek Jerman bernama Maximilian Emil Hehl dengan gaya arsitektur Neo-Gothic. Pembangunan gereja ini diresmikan pada tahun 1954, namun menara gereja baru bisa diselesaikan dengan sempurna pada tahun 1967.

Katedral ini adalah gereja terbesar di Sao Paulo dengan panjang 111 meter, lebar 46 meter, dengan ketinggian menara mencapai 92 meter. Katedral ini bisa menampung 8,000 orang dan pada penyelesaiaanya menggunakan 800 ton marmer.

Letak katedral ini tepat dijantung kota Sao Paulo, sehingga suasana hiruk pikuk bisa sangat dirasakan. Kegiatan yang paling menyenangkan adalah duduk disekitar halaman gereja karena banyak yang bisa diamati. Tidak jauh dari gereja, rombongan polisi sedang apel dan dikelilingi oleh turis, termasuk saya, yang sibuk mengabadikan kegiatan mereka dengan kamera.

Ketika sedang duduk, beberapa ibu-ibu dengan baju berwarna terang sibuk mendatangi dan menawarkan diri untuk membaca garis tangan saya. Ternyata mereka kaum gipsi. Beberapa orang turis disekitar situ memperingati dalam bahasa Inggris untuk berhati-hati karena mereka terkenal pandai mengelabui dan mencuri barang bawaan kita. Akhirnya saya menolak jasa tersebut dan bergerak menjauh menuju area semir sepatu.

Saya menyebut area terpojok halaman gereja dengan  ‘area semir sepatu’ karena disitu terdapat beberapa kursi yang diletakkan diatas panggung kecil yang terbuat dari triplex dan dihiasi payung pantai besar. Di kursi-kursi itu duduk beberapa pria yang sepatu mewahnya sedang dibersihkan dan disemir oleh pria-pria yang duduk dikursi yang lebih rendah.  Suatu pemandangan yang sudah jarang disaksikan.

Di depan gereja terdapat patung besar Santo Paulus, yang menjadi inspirasi nama kota ini, Sao Paulo. Warna pada bagian jari-jari kaki patung ini sudah memudar. Menurut tour guide kami, banyak orang berdoa sambil menyentuh kaki patung ini yang alkisah membawa berkah dan keberuntungan. Tanpa pikir panjang saya pun ikut menyentuh kaki patung itu , dan tentunya tidak lupa untuk berfoto bersama.

Gereja Sao Bento

Perjalanan dari katedral Sao Paulo menuju gereja Sao Bento sebenarnya tidak terlalu jauh. Sekitar 20 menit jalan kaki. Untuk menuju gereja Sao Bento harus melalui  financial district. Kebetulan kami ke daerah itu pada waktu istirahat siang, sehingga  melihat banyak orang berdasi menikmati makan siang di restoran-restoran kecil pinggir jalan.

Selama ini saya berasumsi bahwa warga Brazil selalu berwajah Latin, karena teman-teman saya yang berasal dari Brazil umumnya begitu. Namun di Sao Paulo, orang hitam, Cina, putih, India, semua fasih berbahasa Portugis, bahasa nasional Brazil. Benar-benar multikultural. Selain itu, Brazil juga merupakan negara dengan jumlah populasi imigran Jepang terbanyak di dunia. Pada sensus tahun 2006, jumlah imigran Jepang di Brazil mencapai 3 juta orang.

Suatu saat saya bertemu dengan seorang pria berwajah Jepang yang fasih berbahasa Portugis. Saya pun bertanya latar belakang dan memuji kefasihanya berbahasa Portugis. Dengan santai orang ini menjawab “Of course I speak Portuguese. I’m Brazilian. Can’t you tell?’

Dalam perjalanan menuju gereja Sao Bento, saya melihat sebuah toko kecil yang namanya mirip sekali dengan nama saya, Claro, yang teryata provider telpon terbesar di Brazil.

Akhirnya sampailah kami di gereja Sao Bento. Gereja ini menjadi tempat persinggahan Paus Benediktus ketika beliau berkunjung ke Sao Paulo pada tahun 2007.

Gereja Sao Bento dibangun oleh ordo Benediktin yang  datang ke São Paulo pada tahun 1598. Namun, kapel dan biara baru mulai dibangun pada tahun 1634. Biara Sao Bento saat ini memiliki 40 biarawan yang mengikuti filosifi ‘Ora et labora’ (bekerja dan berdoa), dan ‘et legere’ (membaca, khususnya kitab suci).

Santo Benediktus berpendapat bahwa biara harus memenuhi segala yang dibutuhkan komunitas swasembada, yang memiliki ladang dan bengkel kerja sendiri. Dalam komunitas biara, para biarawan menenun bahan pakaiannya sendiri, menanam bahan makanannya sendiri dan membuat perabotannya sendiri. Oleh sebab itu di biara Sao Bento, ada sebuah toko yang menjual kue, roti tawar, selai, yang khusus dibuat oleh para biarawan . Resep-resep makanan tersebut di berikan secara turun temurun antar para biarawan. Harga makananya lebih tinggi dibanding harga pasaran, namun rasanya lezat dan bahan-bahannya pun berkualitas tinggi. Para turis pada umumnya membeli roti biara sebagai buah tangan.

Gaya arsitektur dari gereja dan biara adalah tipikal gaya jaman abad ke-tujuhbelas. Arsitekturnya merupakan gabungan antara rancangan arsitek Jerman bernama richard Bernd, dan dekorasi internalnya, seperti  fresco dan murals dibuat oleh biarawan asli Belanda, benedick D. Adelbert Gresnicht.

Jam yang berada di menara gereja adalah jam mekanik Jerman yang dipasang pada tahun 1921, dan dipercaya  memberikan waktu paling akurat. Di dalam gereja terdapat sebuah organ Jerman yang sangat terkenal dengan 4 keyboard manual dan pedal, beserta 77 registrasi, dan 6000 pipa.  Gereja dan biara ini hanya sekitar satu blok dari 25 de marco street, area belanja yang sangat populer.

Kebetulan ketika berada di gereja Sao Bento, saya bertemu dengan 2 orang biarawan. Saya pun  memberanikan diri untuk berfoto bersama. Jarang-jarang kan foto bareng biarawan Benediktin di Sao Paulo.

Gereja-gereja Sao Paulo begitu indah dan penuh dengan sejarah. Banyak sekali gereja yang belum sempat di kunjungi, karena waktu sangat terbatas. Namun setelah mengucapkan permohan di ketiga gereja yang belum pernah dikunjungi, saya yakin akan kembali kesana dalam waktu dekat untuk mengucap syukur.

Advertisements

11 thoughts on “Gereja-gereja Bersejarah di Sao Paulo

  1. Haloo Dita, awal yang sangat bagus. ini akan merupakan harta tak ternilai di kemudian hari, sebagai kenang kenangan. Kalau tulisan sudah banyak, tingggal dikumpulkan untuk dibuat suatu buku kenangan bagi generasi masa datang. kita semua (babak, ibu dan Kurik) juga akan menuliskan pengalaman, yang mungkin nampaknya sederhana dan biasa bagi kita, namun mungkin bisa bermanfaat bagi orang lain. Tulisan tulisan semacam ini secara tidak langsung juga menjadi buku kenangan yang indah dan bisa menjadi warisan untuk anak cucu nanti he he he .

  2. wow… senang sekali bisa jalan-jalan ke brazil! apalagi kalau gratis :p
    cerita juga dong tentang museumnya, sempat tour ke museum gak?
    pastinya sama indahnya dengan gereja-gereja itu..

    • Hai Pipitta, makasih ya mampir ke blog gw. Wah sayangnya gak sempet ke Museum karena waktunya sempit banget. Tapi kalo lain kali diberi kesempatan lagi kesana, pastinya bakalan muter2 sampe puas. hahaha

  3. Halooo dita, baca ini jd brasa di sana..kalo mau balik kesana utk ucap syukur gw bersedia dit nemenin:)) tante hawun, ria ikutan yaaaaa 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s