Amerika Utara / USA

Nuansa Eropa di New Orleans

Musim dingin sudah mulai menyelimuti Toronto. Dingin yang menggigit antara -22 sampai -40 derajat celcius membuat hati merindukan hangatnya sinar matahari dan ringannya tubuh tanpa terbalut jaket berlapis-lapis. Karena kebetulan liburan natal sudah diujung mata, saya pun memutuskan untuk pergi berlibur ke kota yang hangat tapi relatif murah.

Ada beberapa alternatif kota bercuaca hangat yang ingin dikunjungi. Tapi sayangnya tidak banyak yang memberikan harga miring menjelang natal. Setelah browsing di internet dan berdiskusi dengan teman dan keluarga, akhirnya pilihan jatuh pada The Big Easy, panggilan populer kota New Orleans di Louisiana, AS. Disebut The Big Easy karena kehidupan penduduknya yang terkenal santai seakan tanpa beban, kontras dengan New York yang dikenal dengan The Big Apple. 

Awalnya saya agak sedikit ragu pergi ke New Orleans sendirian, khususnya karena tingginya angka kriminalitas di kota ini. Menurut survey CNN tahun 2011, New orleans sempat menempati posisi atas sebagai ‘The most dangerous US cities‘ mengalahkan Detroit dan New York. Setelah topan Katrina, kehidupan masyarakat kabarnya makin terpuruk. Belum lagi puluhan blog dan forum di internet yang menceritakan pengalaman buruk berlibur ke New Orleans. Namun, rasa penasaran mengalahkan segalanya. Karena dorongan ibu saya yang kebetulan pernah ke New Orleans dan sangat menyukainya,keraguan pun kontan memudar dan membulatkan tekad untuk berlibur kesana seorang diri.

Pada tanggal 24 desember 2014 jam 4 pagi, saya menuju Pearsons Airport, Toronto untuk menuju New Orleans via Atlanta dengan menggunakan Delta Airlines. Penerbangan ini memakan waktu 5 jam termasuk transit dengan biaya CAD$560 PP. Saya memilih penerbangan pagi karena merasa lebih aman apabila sampai di tujuan sebelum matahari terbenam.

Sesampainya di airport New Orleans, sayapun langsung menuju antrean taksi yang akan membawa ke pusat kota. Hari itu cuaca di New Orleans cukup sejuk, 25 derajat celcius. Berbeda sekali dari Toronto yang pagi itu mencapai -15 derajat dan penuh salju. Sebelum naik taksi semua penumpang diwajibkan untuk membayar biaya taksi di loket yang akan memberikan voucher flat rate $40 berikut booklet berisi informasi New orleans.

Supir taksinya bernama Marcos Galvez. Wajahnya galak tapi untungnya orangnya ramah. Dia memberi informasi makanan enak di pusat kota dan lokasi-lokasi kegemaran turis. Ketika bertanya apakah saya sendiran saja di New Orleans, saya terpaksa berbohong dan bilang hendak mengunjungi teman untuk liburan natal. Saya agak tidak nyaman bila ketahuan berlibur sendirian. Bukan hanya karena kesannya menyedihkan bermalam natal seorang diri (ihik), tapi karena faktor keamanan. Biasanya orang akan lebih berhati-hati menipu apabila tau bahwa kita mempunyai teman lokal.

Supir Taksi yang berwajah galak namun ramah

Selama 30 menit, taksi kuning itu meluncur menuju pusat kota. Dari kejauhan terlihat rawa-rawa yang tersembunyi dibalik pohon elk besar. Hari itu jalanan sangat lengang karena penghuninya banyak yang sudah sibuk dirumah mempersiapkan hidangan malam natal ataupun berlibur keluar kota. Jumlah pejalan kaki bisa dihitung dengan jari. Disudut-sudut kota banyak terlihat tuna wisma tertidur dibawah jembatan ataupun sekedar bercengkrama dengan temannya. Pak Marcos si tukang taksipun mengingatkan untuk selalu pergi dalam grup dan jangan sok berani berjalan sendirian di tempat gelap dan sepi.

Akhirnya sampailah juga di hotel. Kali ini saya memilih Crowne Plaza di French Quarter yang didapat melalui situs hotwire.com. Bulan Desember adalah low season untuk New Orleans sehingga banyak hotel yang memberikan harga murah.

Setelah menaruh koper di hotel dan beristirahat sejenak, sayapun segera mengeksplorasi French Quarter. Namun sungguh kaget ketika sontak tercium bau pesing dan alkohol yang sangat keras di sekitar Bourbon Street, yaitu salah satu jalan paling terkenal di New Orleans. Tidak jauh dari tempat saya berdiri terlihat seorang tuna wisma duduk merokok disebelah muntah yang dibiarkan mengering. Melihat kedatangan saya, diapun berdiri untuk meminta sedekah  dan sayapun menghindar. Baru beberapa langkah terlihat  beberapa perempuan berpakaian minim sedang sibuk mengajak para turis untuk mampir ke bar. Tidak lama terdengar sirene polisi meraung nyaring diiringi beberapa anak muda yang berlari kencang meninggalkan dua orang polisi bertubuh gempal yang tampak kesulitan berlari. Semua ini terjadi sebelum jam 4 sore.

Di sepanjang Bourbon Street terdapat warung-warung alkohol yang menjual minuman cocktail dengan porsi raksasa. Hanya dengan $5 anda bisa menikmati Hurricane yang gelasnya sebesar kepala bayi. Dan asiknya, alkohol bebas diminum dimana saja termasuk taman ataupun di jalan. Alhasil saya jadi sering menikmati musik jazz jalanan di French Quarter sambil menikmati alkohol murah.

Warung alkohol di sepanjang Bourbon Street

Musik terdengar dimana-mana. Entah dari dalam bar, music room, atau restoran. Hampir di tiap blok French Quaret terlihat musisi jalanan yang bermain musik dengan antusias diiringi tepuk tangan dan teriakan penonton. Alat musiknya pun beragam, mulai dari suling, tuba, sampai double bass. Ternyata banyak musisi profesional yang suka ngamen di French Quarter. Bahkan Harry Connick Jr., juri American Idol yang notabene lahir dan dibesarkan di New Orleans, sering bermain piano di salah satu bar kala dia datang berlibur.

Musisi Jalanan di French Quarter

nola7

Musisi Jalanan di French Quarter

New Orleans adalah kota yang sangat unik dan berbeda dibanding kota-kota Amerika lainnya. Selama beberapa abad New Orleans adalah koloni dari negara spanyol dan Prancis sampai akhirnya Napoleon menjual Louisiana ke amerika tahun 1803 karena lokasinya yang terisolasi dan dianggap tidak menguntungkan. Justru karena dilirik sebelah mata sebagai kota rawa buangan yang penuh buaya serta sarang kriminal dan prostitusi, penduduk New Orleans malah menjadi lebih kuat dan mandiri. Di kota inilah mosaik identitas budaya Afrika, Indian dan Eropa melebur menjadi suatu kebudayaan baru. Peleburan identitas budaya tersebut tampak nyata di French Quarter dimana berbaris-baris rumah tersusun rapi dengan warna yang mencolok yang merupakan perpaduan arsitektur Eropa dan Afrika Barat; masakan prancis yang rasanya pedas karena terpengaruh masakan Spanyol dan Afrika.  Selain itu meskipun terletak di Selatan, penduduknya mempunyai logat bicara yang berbeda dari aksen selatan pada umumnya. Budaya baru ini lah yang menciptakan musik jazz, Mardi Gras, dan masakan Creol.

New Orleans adalah kota yang misterius, membingungkan, dan kadang susah untuk dideskripsikan. Banyak yang jatuh cinta dengan kota ini, namun ada juga yang membencinya. Untuk mengerti roh kota ini, memang kita wajib untuk berkunjung kesana setidaknya sekali untuk menyerap eksistensinya melalui sejarah dan budayanya yang kaya.

Arsitektur bangunan di French Quarter

Arsitektur bangunan di French Quarter

Arsitektur bangunan di French Quarter

Advertisements

8 thoughts on “Nuansa Eropa di New Orleans

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s