Amerika Utara / USA

3 Alasan Untuk Mengunjungi Field Museum di Chicago

Kalo ada kesempatan ke Chicago, jangan sampe lewatin untuk berkunjung ke Field Museum of Natural History.  Museum ini adalah salah satu museum terbesar dan terbaik di dunia yang memiliki beragam koleksi artefak dan aneka fosil. Pada awalnya Field Museum dibangun untuk memamerkan dan  menyimpan ratusan koleksi dari Chicago World Fair (Pekan Raya Chicago), namun pada tahun 1905 museum ini berubah fungsi menjadi museum ilmu pengetahuan alam. Bagi saya ada 3 alasan kuat untuk mengunjungi Field Museum yaitu karena  koleksi peninggalan Chicago World Fair, bertemu Sue si T Rex, dan melihat dari dekat pemandangan taman Museum Campus yang memukau.

m2

m3

1. Melihat koleksi peninggalan pekan raya Chicago

Salah satu buku favorit saya adalah The Devil in The White City karangan Erik Larson yang bertema thriller non-fiksi berlatar belakang Chicago World Fair. Rupanya selera saya mirip sama Leonardo Dicaprio ya, karena baru-baru ini dia membeli copyright buku ini untuk selanjutnya dibikin film.

Ketika saya tau bahwa Field Museum akan memamerkan kembali koleksi World Fair tentunya saya sangat girang *Inner geek mode ON*. Anda tau gak kalo di World Fair inilah Ferris Wheel atau kincir raksasa pertama kali dibangun? Hal itu terjadi karena panitia penyelenggara tidak mau kalah dengan kesuksesan World Fair di Paris yang membuat sensasi dengan  Menara Eiffel tahun 1889. Panitia tertantang untuk membuat sesuatu yang lebih sensasional sehingga tercetuslah ide dari seorang insinyur muda bernama George Ferris untuk membangun sebuah kincir raksasa yang terbukti populer sampai sekarang.

m6

m1

Ferris Wheel yang berada di Navy Pier, Chicago

Namun sayangnya, kemeriahan Chicago World Fair ternodai dengan tertangkapnya seorang pembunuh berantai bernama H.H. Holmes yang membuka hotel di  dekat lokasi pekan raya. Bangunan hotel ini dirancang khusus untuk memuaskan nafsu biadabnya yaitu menyiksa dan membunuh para korban dengan  membangun ruang rahasia, ruang kedap suara, bahkan ruang bawah tanah dengan tungku pembakaran mayat. Masuk akal kan kalo kemudian hotel ini diberi nama Murder castle. Meskipun Holmes dihukum gantung karena terbukti membunuh 9 orang, namun gosip yang beredar korbannya mencapai 200 orang. Ternyata sampai sekarang bangunan horor itu masih berdiri sebagai kantor pos di Chicago.

index

H.H Holmes, pembunuh berantai di Pekan Raya Chicago

Ketika saya melihat koleksi di Field Museum, ada beberapa foto yang membuat saya sedih. Pada abad 19 dan awal abad 20, negara Barat banyak mengadakan acara untuk mengenalkan penduduk mereka dengan kebudayaan dari negara-negara lain. Namun tamu dari jauh ini bukannya dijamu, tapi malah dipertontonkan di depan umum dari balik ‘kandang’ hingga disebut human zoo. Salah satu atraksi di Chicago World Fair adalah Java Village, dimana sekumpulan orang Jawa  disuruh menari ataupun melakukan keseharian dari balik pagar atau terali sambil ditonton orang-orang kulit putih yang mencemooh tindak tanduk yang dianggap barbar dan inferior. Sungguh praktek yang amat rasis dan merendahkan. Untungnya jaman sudah berubah dan sekarang Field Museum memperkenalkan budaya Jawa ke publik melalui pameran karya seni. Bahkan sebuah gamelan digital  dipasang untuk dimainkan oleh para pengunjung.

Africans Human Zoo 1B

Orang Jawa di Chicago World Fair

GAIz0L1

‘Human Zoo’ di Chicago World Fair

m8

Gamelan Digital di Field Museum

2. Berfoto bersama Sue si T-Rex

Pada tanggal 17 mei 2000, Field museum memamerkan Sue si T rex, salah satu ‘selebriti’  di dunia paleotologi. Sue adalah fosil T Rex berumur 67 juta tahun yang paling komplit dan kondisinya terbaik sampai saat ini. Nama Sue diambil dari Sue Hendrickson, peleontolog yang pertama kali menemukan fosil ini. Saking terkenalnya Sue si T Rex, tiap kali saya berkunjung ke museum dinosaurus lain, namanya pasti selalu disebut sebagai referensi.

Ternyata membawa Sue ke Field Museum penuh lika liku. Fosil Sue diperebutkan oleh 3 institusi berbeda yaitu The Black institute, yang melakukan penggalian fosil; Maurice Williams, seorang suku Indian Sioux yang memiliki lahan tempat fosil ditemukan; dan pemerintah Amerika Serikat yang juga mempunyai hak atas lahan tersebut. Setelah proses hukum yang alot, akhirnya Maurice Williams berhasil memperoleh Sue dan memutuskan untuk menjualnya melalui proses lelang. Field Museum berhasil membeli Sue tahun 1997 dengan harga 7.6 juta, fosil termahal di dunia.

m4

Berfoto bersama Sue si T-Rex

m13

3. Pemandangan Museum campus

Salah satu atraksi wajib ketika mengunjungi Field museum adalah menikmati tamannya yang indah. Taman yang diberi nama Museum Campus dibuka tahun 1998, memiliki luas  23 hektar dan terletak di pesisir danau Michigan. Taman ini digunakan sebagai jalan penghubung antara 3 museum terkenal yaitu  Adler Planetarium, Shedd Aquarium, dan Field Museum. Area ini mempunyai pemandangan hijau dengan jalan setapak dan jalur  sepeda dan bisa memandang kota Chicago dari kejauhan.

Semoga 3 alasan ini bisa meyakinkan anda untuk berkunjung ke Field Museum, karena bagi saya museum ini memberi persepsi baru tentang sejarah dan ilmu pengetahuan sambil dikelilingi artefak dan pemandangan yang luar biasa.

m10

Pemandangan dari Field Museum

m11

Pemandangan di Campus Museum

m9

Pemandangan di Campus Museum

Advertisements

3 thoughts on “3 Alasan Untuk Mengunjungi Field Museum di Chicago

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s