Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan pertanyaan menarik dari seorang teman. Dia pengen tau faktor-faktor apa yang mempengaruhi saya untuk memutuskan pergi ke suatu tempat tujuan, dan bagaimana menyusun agenda perjalanan yang baik.

Tentunya tiap orang mempunyai cara traveling dan minat yang berbeda. Apa yang bagi saya menarik belum tentu cocok bagi yang lain. Untuk saya, yang paling penting adalah menyusun itinerary sesuai dengan lima faktor kunci berikut ini:

1. Kota yang dikunjungi menawarkan atraksi sesuai hobi dan minat.

Biasanya sebelum mengunjungi suatu tempat, saya akan riset dulu melalui situs travel seperti Tripadvisor, membaca buku/majalah, atau menggali informasi dari kenalan yang pernah kesana. Minat saya cenderung beragam, mulai dari budaya, sejarah, pemandangan alam, dan tempat unik/aneh.

Di jaman teknologi seperti sekarang ini tentunya bukan kendala untuk mendapat informasi sebanyak mungkin. Kata kunci yang sering saya pakai untuk riset adalah ‘Top 10 things to do; weird things to do; off the beaten path, dan top food to eat’. Dengan kata-kata kunci tersebut saya mendapatkan akses ke ratusan situs dan blog yang bisa dijadikan tolak ukur apakah kota tersebut menarik untuk dikunjungi.

IMG_4777
Mencoba ikan herring mentah dan ikan kibbeling goreng- makanan khas Belanda
c3
Mengunjungi Catacomb di Paris

2. Mempunyai budget yang cukup

Setelah memilih kota yang akan dikunjungi, saatnya memulai proses penggodokan dengan riset yang lebih intensif dan detil. Menyusun itinerary sesuai budget sangat penting. Pada proses ini anda harus mulai gencar mencari harga-harga tiket pesawat murah, sekaligus memilih akomodasi. Jangan lupa untuk mengantisipasi pengeluaran pre-departure khususnya pembuatan visa.

Anda juga harus mulai riset ancer-ancer biaya pengeluaran per kota. Kadang kota A lebih mahal dibanding kota B meskipun atraksi yang ditawarkan mirip. Contohnya harga kerang rebus Belgia di Brugges lebih mahal dua kali lipat dibanding di Brussels, meskipun porsi dan rasanya mirip. Demikian juga dengan perbandingan biaya akomodasi. Hotel bintang 3 di kota Brussels harganya lebih murah hampir 50% dibanding hotel bintang 3 di Amsterdam.

IMG_6696
Pemandangan dari hotel Alma di Brussels

Soal makanan, tentunya tidak ada salahnya untuk berhemat. Tapi jangan sampai anda mengorbankan kesempatan untuk mencoba makanan khas lokal. Banyak kok tempat makan murah meriah asal ada keinginan untuk riset. Terlebih lagi dari pengalaman saya berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai negara, topik percakapan yang paling netral, mengasyikan, dan membuat cepat akrab adalah topik tentang makanan. Percaya deh! Jadi alangkah baiknya anda mengalokasikan budget untuk mencicipi makanan setempat.

IMG_6104
Kerang rebus ala Belgia

3. Membuat wishlist dengan skala prioritas

Ketika menyusun itinerary anda harus memegang prinsip prioritas. Saya ambil contoh perjalanan ke Belgia. Awalnya ada empat kota yang ingin saya kunjungin yaitu Brugges, Brussels, Dinant, dan Ghent. Tapi karena hanya punya waktu 5 hari 4 malam, terpaksa Dinant dan Ghent harus dikorbankan. Alasannya karena dari banyak review, Brugges and Brussels adalah dua kota yang paling populer.

IMG_6333
Suasana Bruges

Faktor keamanan harus selalu menjadi prioritas. Sayangnya saya kadang melakukan blunder. Salah satu contoh adalah perjalanan dari Brussels ke Amsterdam. Bukannya memilih kereta Thalys dengan perjalanan direct selama 2 jam, saya malah memilih naik SNCB Europe yang lebih murah dengan jarak tempuh 3 jam. Namun saya tidak tau bahwa SNCB menjual tiket melebihi kapasitas kursi, sehingga serasa naik bis kota-berdesakan kayak sarden. Selama 2 jam-an saya harus berdiri deket WC yang saat itu sedang rusak sehingga menimbulkan bau tak sedap. Sengasara banget!

Selain itu di kereta ini tidak dialokasikan tempat barang yang layak, jadinya koper terpaksa ditaruh di dekat pintu masuk kereta.  Dan kadang, entah sengaja atau tidak, ada tangan-tangan usil yang  sesekali memegang koper, membuat saya deg-degan. Apalagi sering terdengar berita turis yang koper atau tasnya direbut ketika pintu kereta mulai tertutup. Jadi tiap kali kereta berhenti di sebuah stasiun, saya harus memegang koper dan barang bawaan dengan erat.

Untungnya saya sampai Amsterdam tanpa kekurangan sesuatu apapun. Tapi ini pengalaman berharga bahwa kadang tak apa keluar uang lebih, asalkan keamanan terjamin.

IMG_5933
Adik dengan rombongan koper

4. Mengatur itinerary sesuai musim dan hari libur nasional

Dalam membuat jadwal perjalanan yang baik, mengetahui musim dan hari libur nasional tiap kota sangat penting. Kalau musim dingin tentunya barang bawaan akan lebih banyak karena harus membawa jaket, sweater, dan peralatan musim dingin lainnya. Selain itu banyak negara yang cepat gelap di musim ini, sehingga hari terasa lebih pendek, dan waktu terbatas.

Anda juga harus memperhatikan hari besar atau hari libur di tempat tujuan. Contohnya di negara-negara Eropa dimana saat natal dan tahun baru banyak toko yang tutup. Pengalaman menarik adalah ketika saya mengunjungi Vatican di hari natal. Berbeda dari kota-kota Eropa lainnya seperti London, Dusseldorf, dan Paris, dimana banyak toko tutup dan jalanan terlihat lengang, kota Vatican justru ramai. Hampir semua toko, restoran, kafe, aktif beroperasi. Bahkan Museum Vatican membuka pintunya untuk turis.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Padatnya antrian menuju museum Vatican di hari natal 2012
IMG_5580
Suasana lengang di jalan-jalan Dusseldorf pada hari natal 2017

5. Memilih teman perjalanan

Seberapa baiknya anda menyusun itinerary, tapi kalau memilih teman perjalanan yang salah, tentunya sangat menyiksa. Teman dekat anda sehari-hari belum tentu bisa menjadi teman perjalanan yang cocok. Sering saya dengar pertemanan jadi renggang karena adanya konflik di perjalanan. Jadi memang sebaiknya dibicarakan dulu apakah itinerary sesuai minat masing-masing.

Saya sendiri adalah morning person, begitupun disaat liburan. Jadi biasanya keluar penginapan jam 9 pagi, dan kembali saat gelap. Jadi tentunya akan sangat bermasalah apabila berpergian dengan teman perjalanan yang hobi bangun siang.

Selain itu saya tidak begitu suka shopping. Sekedar beberapa jam liat-liat tidak masalah, tapi kalo seharian hanya di mall, tentunya  keberatan. Saya senang wisata kuliner, mencoba makanan dan minuman unik dari tiap daerah. Jadi menyenangkan kalau bisa berpergian dengan orang yang juga hobi mencicipi cita rasa baru.

GOPR1518 (1)
Liburan bersama keluarga di Dusseldorf

Tiap orang mempunyai cara masing-masing dalam menyusun itinerary. Proses anda tentunya berbeda dengan saya. Selama bisa mengunjungi tempat-tempat yang diinginkan sesuai budget, dan mencoba hal-hal baru, saya puas. Jangan memaksa memasukkan tempat wisata yang kurang menarik minat, hanyak karena tempat itu lagi ‘happening’. Apalagi menyusun jadwal terlalu padat sampai tidak bisa menikmati perjalanan.

Apakah anda mempunyai tips jitu dalam menyusun itinerary?

11 thoughts

  1. Aku kaget kok kak Clara sekarang chubby, ternyata adeknya hihihi 😀

    Kalau aku minatnya urban tourism, kak. Jadi, obyek wisata alam buatku adalah “bonus”. Ya kalau kebetulan di sekitar kota itu ada obyek wisata alam yang deket dan mudah diakses, bisalah dihampiri.
    Nyenengin aku itu nggak susah kok. Cukup bisa beraktivitas seperti warga lokal di satu kota, aku udah seneng. Jadi aku nggak pernah kesulitan menemukan tempat menarik di satu kota, tinggal ke tempat-tempat umumnya. Aku juga nggak minat sama obyek-obyek wisata buatan macam Universal Studios atau Disneyland.

    Setelah udah tau mau ke kota mana, aku bakal menyusun itinerary per area, diurutkan dari (seperti kata kak Clara) yang jadi prioritas. Ke mana-mana jalan kaki atau naik angkutan umum, tapi nggak anti juga sama taksi kalau memang dibutuhkan. Yes, mencicipi makanan lokal is a must! Nggak peduli apakah tempat makannya terkenal atau enggak (sekedar kedai di pinggir jalan misalnya), yang penting cobain kulinernya yang terkenal. Apalagi syukurnya kita berdua sama-sama lebih “leluasa” kulineran ya, kak. Hehehe.

    Wah aku kalo jalan-jalan nggak suka bangunnya dipaksain, biasanya baru keluar penginapan itu jam 10 wkwkwk. Nggak jodoh ngetrip bareng nih 😀

    1. Iyaaa sama. Aku juga seneng eksplorasi kota dan melihat secara langsung apa yang penduduk lokal lakukan sehari-hari. Makanya aku seneng banget ke pasar. Terlebih lagi di pasar biasanya banyak dijual makan khas daerah yang harganya murah meriah.

      Dulu waktu kecil aku suka aja Disneyland dan Universal studios, tapi sekarang rada males, bayangin antrenya bikin pegel. hahaha

      Kita harus wisata kulineran bareng nih secara kita sama-sama doyan nyobaiin makanan. Tapi aku keliatannya masih belum berani kalo harus nyoba makanan aneh kayak balut, gurita hidup, daging kuda mentah. Ngeri!

      1. Nah iya. Aku bukan tukang belanja atau pemburu oleh-oleh, tapi aku selalu sempetin ke pasar atau kawasan perbelanjaan di kota itu buat liat warganya.

        Sama kak, aku pun nggak berani yang aneh-aneh. Bukan takut nggak doyan, takut nggak cocok sama tubuh aja. Serangga goreng di Bangkok aja nggak kucoba.

  2. Tahapan riset bikin pusing sekaligus menyenangkan, itu yang bikin semangat. Apalagi gugling destinasi yang jarang dikunjungi orang Indonesia, kepala sampe keliyengan browsing blog bahasa inggris sampe berhari-hari. Kalo udah nemu rutenya baru dah berasa plong 🤓

      1. Tambahin Iceland, Armenia sama New Zealand. Eh NZ udah rame deng sekarang, padahal dulu mah cuma 1-2 yang posting NZ di blog 😂
        Yawla aku pusing gugling Patagonia 😫

        1. Iceland sama NZ udah rame banget sekarang. Keliatannya semua orang tujuannya kesana.

          Lagian lo jauh2 amat ke Petagonia. Gue lebih tertarik ke Santiagonya sih. Keliatannya asik kotanya.

  3. Wah kita ga bisa ngetrip bareng, karena kalo liburan aku biasanya bangun siang dan leyeh-leyeh lama di pagi hari 😀 Udah gitu aku suka night life, ga klabbing sih, tapi aku suka banget duduk-duduk di bar ngobrol-ngobrol dan ketemu orang lokal. Menikmati malam mumpung lagi liburan, besok ga harus bangun pagi, yay!

    1. Bisa kok ngetrip bareng. Tapi aku pagi berangkat duluan, trus kita janjian ketemuan pas makan siang. Beres kan. hahaha

      Aku juga suka nightlife dan nongkrong di bar, kok. Biasanya dari pagi pergi seharian, jam 4 sore-an gitu balik hotel untuk istirahat. Trus malemnya keluar lagi untuk cari makan dan nongkrong. Lagian aku kalo liburan keluar kota gitu suka terlalu excited, jadi sayang dipake tidur.

      Tapi kalo liburannya dalam kota doang sih, adanya bisa 3 hari gak keluar rumah. hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s