Asia / Vietnam

Duduk santai di kursi liliput Ho Chi Minh City

Bulan Oktober 2012, saya berkesempatan berkunjung ke Vietnam.  Penerbangan diawali dari Toronto ke Ho Chi Minh City dengan penerbangan Cathay Pasific seharga CAD$1,850.00 PP dengan waktu tempuh 23 jam. Sebagai WNI, saya bebas visa Vietnam. Tapi kolega  yang berkewarganegaraan Canada, harus mengurus visa di kedutaaan Vietnam di Ottawa dengan proses 1 minggu .

Tanggal 5 Oktober pukul 1 dini hari,saya meninggalkan Toronto menuju Ho Chi Minh melalui Hong Kong. Ini adalah perjalanan  pertama saya ke Vietnam. Penerbangan dari Toronto ke Hongkong ditempuh dalam waktu 16 jam, transit 4 jam, dan dilanjutkan  ke Ho Chi Minh City selama 3 jam.

Kereta transfer yang menghubungkan gate 33-80 ke gate 81

Arsitektur bandara Hong Kong

Menikmati bebek dan babi di food court

Saya tiba di bandara Ho Chi Minh  jam 11 siang. Bandara udara di HCM (Ho Chi Minh) berbeda sekali dengan bandara di Hong Kong. Sederhana dan jauh lebih kecil. Saat mengambil bagasi, dari 5 Conveyer belt yang ada, hanya  1 yang berfungsi, padahal ada  4 penerbangan yang mendarat bersamaan. Jadinya pengambilan bagasi terhambat dan terpaksa menunggu  1 jam.

Dari bandara  saya menggunakan pelayanan penjemputan dari Intercontinental hotel, tempat saya menginap. Harga penjemputannya  1 juta Viet Dong atau sekitar 500 ribu rupiah. Jarak dari bandara ke hotel hanya 25 menit jadi kalau memakai taksi argo hanya 200 ribu Dong atau 100 ribu rupiah saja. kalau penerbangan anda malam hari dan tiba diatas jam 9 malam, dianjurkan memesan penjemputan dari hotel, karena sering terjadi penipuan. Seorang teman  pernah mendarat pukul 10 malam dan harus membayar 500 ribu Viet Dong atau 250 ribu rupiah untuk taksi tanpa argo, bahkan ada kalanya mereka minta lebih. Jumlah taksi di bandara terbatas pada malam hari, jadi tidak banyak pilihan. Pilihlah taksi dari perusahaan Vinasun atau Mai Linh karena dikenal aman.

Perjalanan dari bandara ke hotel di pusat kota menyenangkan. Pemandanganya mirip dengan hiruk pikuk Jakarta, tetapi wajah penduduknya Oriental.  Jumlah motor yang berseliweran ratusan dan lalu lintasnya semerawut. Tapi yang paling mengagumkan, tidak macet. Kolega saya kagum melihat sebuah motor yang dinaiki oleh 4 orang sekaligus.

Hotel intercontinental terletak 15 menit jalan kaki dari pusat kota. Lokasinya bersebelahan dengan Hard Rock Cafe. Kalau naik taksi dari hotel ke pusat kota, biayanya 20.000 Viet Dong atau sekitar 10 ribu rupiah.

Perjalanan dari hotel (A) ke pusat kota (B)

Dollar Canada tidak begitu populer di Vietnam. Pihak hotel akhirnya memberi informasi money changer terdekat yang menerima Dollar Canada. Lokasinya di pusat kota. Sebelum pergi resepsionis hotel menginformasikan bahwa kunci menyebrang di Vietnam adalah berjalan pelan dan jangan lari. Kalau lari, pengendara motor atau mobil tidak bisa mengantisipasi gerakan kita sehingga tabrakan sering terjadi.

Belum lama berjalan menjauh dari tempat penyeberangan, tiba-tiba seorang tukang ojek mendekati.  dia menawarakan diri untuk menjadi guide. Setelah saya bersikap acuh, akhirnya dia pergi juga. Di Ho Chi Minh City banyak tukang ojek yang juga berperan ganda sebagai guide meskipun dengan kemampuan bahasa Inggris yang terbatas. Mereka membawa wisatawan ke berbagai area turis ataupun pusat perbelanjaan dan kadang mendapat komisi dari pihak toko.  

Money changer tujuan  letaknya di jalan Le Loi di pusat kota. Sekedar masukan, sebaiknya jangan sekaligus banyak menukar uang dollar ke Viet Dong.  Sedikit-sedikit dulu. Biasanya money changer ,bahkan bank sekalipun tidak mau membeli Viet Dong. Jadi kalau sudah ditukar, lebih baik dihabiskan.

Salah satu kegiatan yang paling dinantikan di Ho Chi Minh adalah mencoba masakan asli Vietnam. Saya perhatikan rumah makan di pusat kota atau daerah District 1 biasanya lebih mahal dibanding didaerah lain seperti district 2, 3, 4 dan seterusnya. Tapi bedanya, di District 1 lebih banyak  rumah makan yang menyediakan menu berbahasa Inggris. Dari pengalaman pribadi, di kawasan lain saya lebih sering menggunakan bahasa Tarzan. Seorang teman merekomendasikan rumah makan bernama Pho 24 yang cabangnya ada dimana-mana. Restoran ini  rasanya biasa saja. Harga pho (Mie vietnam) dan es kelapa adalah 90 ribu Viet Dong atau berkisar 45 ribu rupiah.

Makan Pho (Mie Vietnam) di Pho 24

Yang paling berkesan justru pengalaman di District 10. Saat itu terlihat beberapa orang sedang asik menikmati makanan warung yang menyediakan bangku-bangku rendah yang saya namakan bangku liliput.  Menunya terdiri dari daging babi kecap, ayam goreng, dan telor bumbu. Saya jadi tergoda mencoba. Saat membeli, tidak ada satupun dari penjual yang mengerti bahasa Inggris, jadi harus menujuk-nunjuk makanan yang diinginkan. Model penyajianya seperti nasi rames yang terdiri dari nasi, sayur, dan lauk berupa daging pilihan. Mereka juga menyediakan teh tawar dingin yang diletakaan ditermos diatas meja. Rasanya biasa saja, tapi saya sangat menikmati suasananya. Meskipun duduk di trotoar , jalanan sangat bersih. Harga per porsi 20 ribu Viet Dong atau 10 ribu rupiah.

Masakan di warung pinggir jalan

Makan nasi campur dipinggir jalan diatas kursi liliput

Karena di HCM sedang bertugas, saya tidak punya banyak waktu untuk jalan-jalan, sehingga  tiap kali ada waktu luang, pasti dipakai seefisien mungkin. Transportasi yang digunakan selalu taksi dan jalan kaki. Harga taksi tidak mahal. Perjalanan terjauh selama di HCM adalah ke District 15 kira-kira 45 menit dari pusat kota, dan menghabiskan 120 ribu rupiah pulang pergi.

Bila anda ke pusat kota atau District 1, tempat yang wajib dikunjugi adalah persimpangan Jalan Le Loi dan Nguyen Hue. Jalan Le Loi ini diambil dari nama seorang raja yang mempimpin Dinasti Le. Daerah ini merupakan pusat perbelanjaan elit seperti Burberry, Louis Vuitton, Prada dan juga dikelilingi oleh beberapa hotel bintang 5.

Jalan Le Loi

Persimpangan Jalan Le Loi & Nguyen Hue di siang hari

Persimpangan Jalan Le Loi & Nguyen Hue di malam hari

Persimpangan antara Jalan Le Loi dan  Dong Khoi merupakan lokasi Opera House yang bergaya Kolonial.  Bangunan ini dibangun pada tahun 1897 oleh arsitek Prancis bernama Felix Olivier. 

Meskipun Vietnam sudah bersatu, tetap ada rasa curiga dan rasialis antara warga Selatan dan Utara. Contohnya selama di Vietnam, warga Ho Chi Minh selalu memperingati bahwa Hanoi di daerah utara sangat berbahaya karena penduduknya kaum penjahat dan penipu. Dilain pihak, warga Hanoi menyebut penduduk Daerah Selatan terbelakang dan tidak disiplin.

Saigon Opera House

Saigon Opera House

Pemandangan dari taman di Jalan Le Loi

Patung Jendral Ho Chi Minh di depan City Hall

Jika anda menyukai bir, ada tempat yang sangat nyaman di daerah District 1, tepatnya di jalan 125 Dong Khoi bernama Bier Garden. Restoran/bar ini menjual bir dari seluruh dunia dan juga berbagai macam makanan. Restoran ini lebih digandrungi wisatawan asing dibanding warga Vietnam sendiri, mungkin karena harganya relatif mahal.  Saya sangat merekomendasikan minuman bernama Sebastiaan Cru yaitu bir Belgia yang rasanya manis dan segar. Botolnya terbuat dari keramik dengan tutup botol yang  khas (botol-botol seperti ini masih banyak ditemukan di daerah Jogja).  Harga bir ini cukup mahal, 350 ribu Viet Dong sebotol atau sekitar 175 Ribu Rupiah.

Bier Garden Restaurant

Bir Belgia Sebastiaan Cru

Vietnam terkenal dengan kopinya. Salah satu perusahaan kopi yang terkenal  adalah Trung Nguyen Coffee . Brand ini sudah seperti Starbucks di Amerika, populer dan ada dimana-mana. Banyak orang Indonesia membeli kopi merek ini sebagai oleh-oleh. Harganya bervariatif. Yang paling murah jenis Culi Robusta seharga 55 Ribu Rupiah per 250 gram. Yang termahal jenis Classic Legendee yang harganya 190 ribu rupiah per 250 gram.

Di depan Trung Nguyen Coffee District 1

Waktu 3 hari rasanya belum cukup untuk mengekplorasi Ho Chi Minh City secara keseluruhan. Masih banyak  tempat-tempat yang belum sempat dikunjungi.  Awalnya agak kecewa dengan HCM karena kotanya mengingatkan saya dengan Jakarta era 1980-an. Gedung-gedungnya tua dan ketinggalan jaman. Tapi semakin lama disana,  semakin menikmati suasana, budaya, dan keunikan karakter masyarakatnya.  Suatu hari kelak  pasti  akan berkunjung lagi ke kota Paman Ho ini.

Katedral Notradame

Advertisements

6 thoughts on “Duduk santai di kursi liliput Ho Chi Minh City

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s